Senin lalu aku maju pendadaran (Ujian
TA). Jujur saja, persiapanku hanya seadanya dan aku yakin bahwa itu
bukanlah usaha maksimal saya meskipun sudah kurasakan begitu maksimal.
Yah, dalam keadaan kepepet, semuanya bisa saja terasa maksimal meski
itu bukan yang terbaik yang kita berikan dari yang kita punya.
Dosen tidak menyatakan aku lulus, hanya mengatakan bahwa aku tidak
perlu melakukan ujian ulang (ya sama aja donk :D). Yah,
alhamdulillah... sudah sedikit lega, meski masih harus mengerjakan
revisi yang jujur saja aku begitu malas untuk mengerjakannya. Dan
sampai sekarang pun aku masih belum memulai untuk itu. Apakah harus
selalu seperti ini? Bekerja setelah mendekati batas waktunya habis
seolah-olah bekerja dengan terpaksa.
Itulah penyakit yang masih bersemayam di dalam diriku. Penyakit yang
kuidap sejak aku mulai masuk SMP. Berbeda dengan diriku waktu sebelum
itu. Aku selalu mengerjakan apa yang harus kukerjakan (ya emang harus
gitu...). Aku selalu ingin cepat menyelesaikannya. Meskipun harus
begadang... Aku merasa susah sekali untuk tidur jika pekerjaanku belum
selesai. Sungguh indah mengenangnya...
Berbeda dengan diriku sekarang yang terkesan "manja". Terlalu banyak
membuang-buang waktu dan lelet... Sebenernya aku benci dengan hal ini,
tetapi... susah sekali untuk mengobatinya (ada yang mo ngasih teraphy?)
Hmmm... tetapi apakah harus tetap seperti itu. Tetap berada dalam
keterpurukan ini. Sungguh... sungguh aku ingin lepas dari penyakit ini.
Penyakit yang "merenggut" hidupku.
Memang, bukan hanya cukup dengan andai-andai. Semua perlu dilakukan...
dilawan. Berat, tetapi harus, susah tetapi pasti ada jalan.
Hidup bukanlah untuk menyesali hari kemarin, tetapi untuk melakukan
yang terbaik untuk hari ini dan merencanakan untuk hari esok.
Semangat yuk... revisinya diselesaikan dan rencanakan masa depan

Cara hidup terkadang juga memerlukan "revisi", ya to?